Tuesday, May 26, 2009

BEI Klarifikasi Kasus Citi Pacific Securities

Bursa Efek Indonesia (BEI) segera meminta penjelasan kepada manajemen PT Citi Pacific Securities (TA) terkait dugaan penggelapan saham oleh direksi perseroan. Jika dinilai perlu, BEI akan mensuspensi anggota bursa itu.

"Kami akan meminta penjelasan dan klarifikasi dari manajemen Citi Pacific Securities secepatnya," ujar Direktur Perdagangan Fix Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan BEI, Guntur Pasaribu saat dihubungi detikFinance, Selasa (26/5/2009).

Guntur mengaku belum mengetahui persis duduk permasalahannya. Oleh sebab itu BEI belum memberikan sanksi suspensi pada Citi Pacific Securities. Dua direksi yakni Presdir dan direktur Citi Pacific Securities telah ditetapkan menjadi tersangka.

"Kami perlu melihat dulu klarifikasi dari manajemen Citi Pacific Securities, baru akan diputuskan apakah akan disuspensi atau tidak," ujar Guntur.

Sebelumnya, Satuan Harta Benda Bangunan dan Tanah (Harda Bangtah) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya telah menahan 4 tersangka terkait kasus penggelapan saham Citi Pacific Securities.

Keempat tersangka diduga telah menggelapkan saham senilai Rp 104 miliar milik perusahaan sekuritas asal Singapura bernama Citi Globe Pte, Ltd.

Citi Globe merupakan pemilik 40% saham Citi Pacific Securities. Sisanya sebesar 60% dimiliki oleh PT Pacific Finances Indo. Namun oleh keempat tersangka saham milik Citi Globe di Citi Pacific Securities sebesar 40% dijual tanpa sepengetahuan pemiliknya ke PT Lutfimindo Pratama.

Sehingga saat ini yang tercantum dalam daftar pemilik Citi Pacific Securities adalah PT Pacific Finances Indo 60% dan PT Lutfimindo Pratama 40%.

Keempat tersangka adalah Direktur Utama Citi Pacific Securities Monang Lumban Tobing, Direktur Citi Pacific Securities Hendri Budiman, serta dua orang staff Citi Globe Johanes Herkiamto dan Andriyani.

Modus yang dilakukan tersangka adalah dengan cara memalsukan surat kuasa untuk menjual 40% saham Citi Pacific Securities milik City Globe ke perusahaan lain, yakni PT Lutfimindo Pratama pada 2007. Penjualan ini dilakukan oleh 4 tersangka tanpa sepengetahuan Citi Globe dengan memalsukan surat kuasa.

Kasus ini terungkap saat korban, Rosemary Anne James selaku Direktur Citi Globe Pte, Ltd melaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) PMJ pada 3 April 2008.

Dalam laporan yang bernopol: LP/844/K/IV/2008/SPK UNIT III itu, Rosemary menerangkan dugaan pengalihan secara ilegal 40% saham perusahaan yang dipimpinnya.

Sumber: www.detikfinance.com 26/05/2009

Monday, May 25, 2009

Rupiah Manfaatkan Layunya Dolar AS

Rupiah diprediksi masih punya banyak 'simpanan' sebagai peluru untuk menjangkau terus zona positif. Rupiah juga bisa memanfaatkan layunya dolar AS.

Dolar AS sedang dirundung banyak rumor negatif karena muncul kabar risiko penurunan terhadap peringkat AS. Pelaku pasar global juga tengah menanti pengumuman data penjualan rumah dan tingkat produk domestik bruto (PDB) AS yang akan keluar pekan ini.

Dari dalam negeri penguatan rupiah masih akan mengandalkan dana asing yang masuk ke pasar saham dan surat utang. Pencapaian PDB Indonesia di triwulan I-2009 yang masih tumbuh 4,4% membuat pelaku pasar melihat peluang investasi di Indonesia cukup menarik.

Pada perdagangan valas pukul 07.56 WIB, Senin (25/5/2009) rupiah ada di posisi 10.265 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 10.260-10.270 per dolar AS. Rupiah diprediksi bisa mencapai level 10.100-an per dolar AS.

Sumber: www.detikfinance.com 25/05/2009

Sunday, May 24, 2009

Japan's Economy Hammered Again

A plunge in demand for Japanese exports has the world's second largest economy sinking at a record pace, with the prime minister warning the situation could become even "more severe."

Japan said Wednesday its economy shrank at a 15 percent annual pace during the first three months of 2009.

It is the worst decline since Japan began keeping records in 1955 and much bigger than the declines seen so far in the United States or Europe.

Officials say a big reason for the fall is a drastic drop in demand for Japanese products around the world. Overseas shipments for the first three months of 2009 fell 26 percent from the previous quarter.

Japanese Prime Minister Taro Aso says the economic struggles could get worse, because Japanese consumers are only now starting to feel the impact of the recession.

Japanese consumer spending fell more than one percent during the first three months of the year compared to the last three months of 2008.

Still, some economists say the new data might indicate that Japan has already seen the worst of the recession.

They say the global drop in demand for exports is slowing and that moves by Japanese companies to survive the downturn should also help.

Japan is not the only Asian country to suffer because of falling demand for goods around the world.

Thailand said Tuesday that exports declined for a sixth consecutive month in April, dropping more than 26 percent compared to the year before.

Meanwhile, an official with the World Bank warns it is too soon to tell if China is starting to recover from the global recession.

World Bank China director David Dollar says government spending has helped the world's third largest economy but that more private investment is needed to sustain economic growth.

China said Wednesday it will send three delegations to Taiwan to buy food and machinery, part of what Chinese officials say is a joint effort to tackle the financial crisis.

Also Wednesday, the Asian Development Bank signed agreements with eight Vietnamese banks in an effort to help that country's exporters.

Some information for this report was provided by AFP, AP and Reuters.

Source :
20 May 2009

Saturday, May 23, 2009

Rupiah Ceria di Akhir Pekan

Pelemahan dolar AS di pasar global membawa sentimen positif pada nilai tukar rupiah. Rupiah mengukir penguatan signifikan di akhir pekan.

Pada perdagangan Jumat (22/5/2009), rupiah ditutup pada level 10.212 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 10.327 per dolar AS.

Sementara yen Jepang juga mencatat posisi tertingginya dalam 2 bulan terakhir atas dolar AS, setelah pemerintah Jepang menyatakan tidak akan melakukan intervensi untuk menahan laju penguatan yen.

Dolar AS diperdagangkan di level 94,12 yen, dibandingkan sebelumnya di 94,42 yen. Euro juga menguat atas dolar AS ke posisi 1,3916 dolar, dibandingkan sebelumnya di posisi 1,3887 dolar.

Menteri Keuangan Jepang Kaoru Yosano menyatakan pihaknya tidak berniat untuk mengintervensi penguatan yen. Padahal yen yang menguat tajam bisa berdampak buruk pada eksportir.

"Kami sama sekali tidak berpikir tentang melakukan intervensi di pasar valas pada titik ini," ujar Yosano seperti dikutip dari AFP.

Sumber: www.detikfinance.com 22/05/2009

Friday, May 22, 2009

Pasar Valas Terguncang, Dolar AS Ambruk

Dolar AS ambruk atas mayoritas mata uang dunia akibat munculnya kekhawatiran penurunan peringkat kredit pemerintah AS. Kekhawatiran itu muncul setelah Standard & Poor's (S&P) menurunkan outlook Inggris dari 'stabil' ke 'negatif'.

Lembaga pemeringkat itu juga memperingatkan perubahan outlook ini bisa saja berimplikasi pada penurunan peringkat 'AAA' Inggris. Sementara AS yang kondisi perekonomiannya kini hampir seburuk Inggris karena defisit anggaran yang membubung dikhawatirkan akan bernasib sama.

Jika peringkat utang pemerintah AS betul-betul diturunkan, maka bisa berdampak pada nilai aset-aset berdenominasi dolar AS. Sentimen ini sebelumnya telah melukai bursa Wall Street.

"Para pialang melihat apakah AS akan menjadi negara berikutnya yang berada dalam credit watch. Meski risikonya rendah, namun konsekuensinya bisa sangat beragam," ujar Kathy Lien, analis valas FX 360 seperti dikutip dari AFP, Jumat (22/5/2009).

Pada perdagangan Kamis (21/5/2009), euro menguat hingga 1% ke level 1,3899 dolar. Euro sempat melonjak ke 1,3923 dolar untuk pertama kalinya sejak Januari. Dolar AS juga melemah 0,6% atas yen ke posisi 94,25 yen, atau mendekati level terendahnya dalam 2 bulan di posisi 94 yen.

Penguatan yen atas dolar AS terus berlanjut hingga Jumat ini. Pada awal perdagangan Jumat, dolar AS diperdagangkan di level 93,96 yen, atau level terendah sejak 19 Maret. Pemerintah Jepang menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan intervensi kendati yen menguat tajam dan dikhawatirkan bisa memukul industri di negara tersebut.

Nilai tukar rupiah pun menikmati berkah dari pelemahan dolar AS di pasar global. Pada perdagangan Jumat akhir pekan pukul 07.30 WIB, rupiah dibuka di level 10.195 dolar, dibandingkan posisi penutupan Rabu lalu di 10.327 per dolar AS.

Pasar obligasi AS juga mencatat penurunan tajam. Yield untuk US Treasury 10 tahun melonjak menjadi 3,353% dibandingkan sebelumnya 3,202%. Sementara US Treasury 30 tahun juga melonjak dari 4,160% menjadi 4,313%.

Sumber: www.detikfinance.com 22/05/2009


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Architecture. Powered by Blogger