Showing posts with label Foreign Exchange. Show all posts
Showing posts with label Foreign Exchange. Show all posts

Monday, May 25, 2009

Rupiah Manfaatkan Layunya Dolar AS

Rupiah diprediksi masih punya banyak 'simpanan' sebagai peluru untuk menjangkau terus zona positif. Rupiah juga bisa memanfaatkan layunya dolar AS.

Dolar AS sedang dirundung banyak rumor negatif karena muncul kabar risiko penurunan terhadap peringkat AS. Pelaku pasar global juga tengah menanti pengumuman data penjualan rumah dan tingkat produk domestik bruto (PDB) AS yang akan keluar pekan ini.

Dari dalam negeri penguatan rupiah masih akan mengandalkan dana asing yang masuk ke pasar saham dan surat utang. Pencapaian PDB Indonesia di triwulan I-2009 yang masih tumbuh 4,4% membuat pelaku pasar melihat peluang investasi di Indonesia cukup menarik.

Pada perdagangan valas pukul 07.56 WIB, Senin (25/5/2009) rupiah ada di posisi 10.265 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 10.260-10.270 per dolar AS. Rupiah diprediksi bisa mencapai level 10.100-an per dolar AS.

Sumber: www.detikfinance.com 25/05/2009

Saturday, May 23, 2009

Rupiah Ceria di Akhir Pekan

Pelemahan dolar AS di pasar global membawa sentimen positif pada nilai tukar rupiah. Rupiah mengukir penguatan signifikan di akhir pekan.

Pada perdagangan Jumat (22/5/2009), rupiah ditutup pada level 10.212 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 10.327 per dolar AS.

Sementara yen Jepang juga mencatat posisi tertingginya dalam 2 bulan terakhir atas dolar AS, setelah pemerintah Jepang menyatakan tidak akan melakukan intervensi untuk menahan laju penguatan yen.

Dolar AS diperdagangkan di level 94,12 yen, dibandingkan sebelumnya di 94,42 yen. Euro juga menguat atas dolar AS ke posisi 1,3916 dolar, dibandingkan sebelumnya di posisi 1,3887 dolar.

Menteri Keuangan Jepang Kaoru Yosano menyatakan pihaknya tidak berniat untuk mengintervensi penguatan yen. Padahal yen yang menguat tajam bisa berdampak buruk pada eksportir.

"Kami sama sekali tidak berpikir tentang melakukan intervensi di pasar valas pada titik ini," ujar Yosano seperti dikutip dari AFP.

Sumber: www.detikfinance.com 22/05/2009

Friday, May 22, 2009

Pasar Valas Terguncang, Dolar AS Ambruk

Dolar AS ambruk atas mayoritas mata uang dunia akibat munculnya kekhawatiran penurunan peringkat kredit pemerintah AS. Kekhawatiran itu muncul setelah Standard & Poor's (S&P) menurunkan outlook Inggris dari 'stabil' ke 'negatif'.

Lembaga pemeringkat itu juga memperingatkan perubahan outlook ini bisa saja berimplikasi pada penurunan peringkat 'AAA' Inggris. Sementara AS yang kondisi perekonomiannya kini hampir seburuk Inggris karena defisit anggaran yang membubung dikhawatirkan akan bernasib sama.

Jika peringkat utang pemerintah AS betul-betul diturunkan, maka bisa berdampak pada nilai aset-aset berdenominasi dolar AS. Sentimen ini sebelumnya telah melukai bursa Wall Street.

"Para pialang melihat apakah AS akan menjadi negara berikutnya yang berada dalam credit watch. Meski risikonya rendah, namun konsekuensinya bisa sangat beragam," ujar Kathy Lien, analis valas FX 360 seperti dikutip dari AFP, Jumat (22/5/2009).

Pada perdagangan Kamis (21/5/2009), euro menguat hingga 1% ke level 1,3899 dolar. Euro sempat melonjak ke 1,3923 dolar untuk pertama kalinya sejak Januari. Dolar AS juga melemah 0,6% atas yen ke posisi 94,25 yen, atau mendekati level terendahnya dalam 2 bulan di posisi 94 yen.

Penguatan yen atas dolar AS terus berlanjut hingga Jumat ini. Pada awal perdagangan Jumat, dolar AS diperdagangkan di level 93,96 yen, atau level terendah sejak 19 Maret. Pemerintah Jepang menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan intervensi kendati yen menguat tajam dan dikhawatirkan bisa memukul industri di negara tersebut.

Nilai tukar rupiah pun menikmati berkah dari pelemahan dolar AS di pasar global. Pada perdagangan Jumat akhir pekan pukul 07.30 WIB, rupiah dibuka di level 10.195 dolar, dibandingkan posisi penutupan Rabu lalu di 10.327 per dolar AS.

Pasar obligasi AS juga mencatat penurunan tajam. Yield untuk US Treasury 10 tahun melonjak menjadi 3,353% dibandingkan sebelumnya 3,202%. Sementara US Treasury 30 tahun juga melonjak dari 4,160% menjadi 4,313%.

Sumber: www.detikfinance.com 22/05/2009

Thursday, May 21, 2009

IMF: Asia Facing Slow Economic Recovery, Urges Sustained Measures

The International Monetary Fund says many Asian economies are to continue to tumble this year and will take some time to recover from the global economic slow-down. The IMF says Asian governments should sustain economic stimulus policies and encourage more domestic consumption.

The new IMF report on the economic outlook for the Asia and the Pacific says the region will take longer than other parts of the world to recover from the global slow-down.

The Washington-based organization says Japan is expected this year to experience its worst recession on record.

The economies of Korea, Hong Kong, Taiwan, New Zealand and Australia are also expected to shrink.

In Southeast Asia, the International Monetary Fund says Singapore, Malaysia and Thailand will contract while the Philippines will record zero growth.

"Accordingly, we forecast that Asia's growth will decelerate to just 1.3 percent this year before rebounding to 4.2 percent in 2010, still well below the region's potential and the 5.1 percent rate recorded in 2008," said Kalpana Kochhar, deputy director of the IMF's Asia and Pacific Department.



On the positive side, China, India, Indonesia and Vietnam are expected to slow down this year, but still grow their economies.


The IMF says most Asian economies, with the exceptions of Singapore and Taiwan, are expected to grow next year as exports begin to revive.

But, Kochhar says that also depends on Asian governments continuing to stimulate their economies.

"Fiscal stimulus provided in 2009 will need to be sustained into next year. And, in many cases there is also scope for reducing interest rates further or even adopting unconventional monetary policies as in the advanced countries," said Kochhar.

Kochhar adds that Asian countries also need to maintain their foreign exchange liquidity through currency swaps or assistance from organizations like the International Monetary Fund.

Most Asian economies worst hit by the global slow-down rely on manufacturing for export as a major growth engine.

But the lack of credit in developed countries has led to what the IMF calls a "collapse in the demand" for Asian exports.

The IMF says between September 2008 and February this year, merchandise exports in emerging Asian economies fell at an annualized rate of about 70 percent - almost three times the drop experienced during the late 1990s Asian financial crisis.

In the long run, the International Monetary Fund says, Asian economies will need to change their structure to rely less on exports, since consumption in advanced countries may remain weak for years to come.



06 May 2009
VOA News

Monday, April 27, 2009

Rupiah: Risiko Hampir Tidak ada

Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (27/4) diperkirakan masih akan bergerak dalam kisaran trading. Aksi profit taking mulai muncul, namun hanya bersifat sementara terkait kokohnya posisi mata uang ini.

Kepala Treasuri Bank BCA Branco Windoe mengatakan, pergerakan rupiah pekan lalu menunjukkan penguatan, bahkan tercatat sebagai mata uang terbaik di pasar Asia, selain won Korea.

Namun, saat ini sudah mulai muncul adanya aksi profit taking terhadap rupiah, seiring penjualan aset di pasar saham dan obligasi oleh perbankan luar negeri. “Rupiah akan bergerak di kisaran 10.500-11.000 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.

Brancoe mengatakan, aksi ambil untung ini dilakukan oleh mutual fund, merefleksikan bahwa penjualan terjadi karena adanya kebutuhan. Ini berarti, masih ada dana yang tersisa di emerging market, termasuk Indonesia. “Kalau mutul fund, dana tidak diambil semua, berbeda bila profit taking dilakukan oleh hegde fund,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa aksi ambil untung ini mengindikasikan peningkatan risk apetite. Selain itu juga turunnya harga surat utang pemerintah AS (US Treasury) dan bullish-nya bursa WallStreet.

Brancoe mengatakan, aksi ambil untung ini bukan dipicu situasi politik di Indonesia, namun hanya antisipasi investor karena pekan ini akan keluar hasil stress test perbankan AS.

Menurutnya, kalau hasil itu positif, maka dapat mengarahkan pada meningkatnya permintaan aset berisiko dan mendorong rupiah menguat ke arah 10.500 per dolar AS. “Namun penguatan rupiah akan sedikit tertahan karena siklus demand dolar AS di akhir bulan,” ulasnya.

Sementara fundamental rupiah masih didukung neraca pembayaran (balance of payment (BOP) yang surplus akibat masuknya aliran dana (capital infow) dan investasi langsung (direct investment).

Alhasil, merosotnya nilai ekspor tidak banyak menekan rupiah. “Rupiah tidak terganggu turunnya pengiriman barang ke luar negeri karena nilai impor lebih anjlok lagi,” paparnya.

Terkait suku bunga BI rate yang diturunkan menyusul ekspektasi deflasi sepanjang April, Brancoe mengatakan, minat investor akan tingkat risk aversion saat ini mulai turun. Ini berarti yang dicari saat ini adalah aset dengan imbal hasil tinggi, seperti obligasi dan saham. “Bila BI rate turun, tidak berpengaruh ke minat investor terhadap pasar Indonesia,” tegasnya.

Dijelaskan, suku bunga di pasar obligasi Indonesia saat ini yang sebesar 9,5% masih cukup menarik minat investor. Selain itu, pelaku pasar juga melihat bahwa ekspektasi penurunan BI rate, tidak langsung mempengaruhi market.

Risiko nilai tukar juga nyaris tidak ada karena selalu dijaga Bank Indonesia (BI). Menurutnya, pasar tidak khawatir akan penurunan suku bunga, karena BI rate ini sebenarnya hanya suku bunga acuan (official rate).

Turunnya suku bunga kredit perbankan masih tergantung bank masing-masing. “Kalau situasi masih sulit, bank tidak akan menurunkan suku bunga,” paparnya. Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (24/4) ditutup menguat 67 poin terhadap dolar AS menjadi 10.818.

Sumber: Inilah.com 27/04/2009


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Architecture. Powered by Blogger