Sunday, June 28, 2009

BI Rate Masih Bisa Diturunkan 25 Bps

Bank Indonesia (BI) masih bisa menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps pada bulan Juli 2009 nanti.

Hal ini disampaikan oleh para ahli ekonomi Citi Group dalam ‘Emerging Markets Macro and Strategy Outlook: Are Petrodollars Coming Back? ' yang dikutip detikFinance , Sabtu (27/6/2009).

Dalam tulisan itu dikatakan BI Rate masih bisa turun 25 bps menjadi 6,75% melihat laju inflasi di 2009 yang masih rendah, namun risiko kenaikan ekspektasi inflasi tahun depan semakin tinggi akibat kewaspadaan kenaikan harga nminyak dunia yang cukup tajam yang akan mengakibatkan membengkaknya subsidi BBM.

Meski begitu, Citi melihat perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan permintaan domestik yang berlanjut pada kuartal II-2009, dan ekspor juga menunjukkan sedikit kenaikan.

Citi pun menaikkan proyeksi atas surplus neraca perdagangan Indonesia dengan melihat neraca perdagangan yang menunjukkan kenaikan yang berlanjut, ini akan membantu menopang volatilitas keluar masuknya arus modal.

Sementara itu, profil kredit Indonesia juga cenderung membaik dilihat dari posisi utang yang relatif rendah dan cadangan devisa yang terus menerus meningkat. Diharapkan tahun depan peringkat utang Indonesia akan terus meningkat.

Dua isu kunci yang perlu dicermati pada perekonomian Indonesia adalah penerbitan Samurai Bond dalam waktu dekat (yang kemungkinan sebesar US$ 1 juta miliar), dan pemilihan presiden dimana Presiden SBY kemungkinan terpilih kembali.

Strategi, risiko nilai tukar rupiah merupakan sesuatu yang sudah diprediksi sebelumnya sejalan posisinya yang semakin crowded .

Citi melihat ini sebagai kesempatan untuk memburu lagi instrumen obligasi rupiah jangka panjang, khususnya obligasi dengan tenor 5 tahun dan kisaran yield 10,5%. Diharapkan premium CDS (Credit Default Swap ) 5 tahun Indonesia dengan Filipina akan berkisar di angka tersebut (10,5%).

Sumber: www.detikfinance.com 27/06/2009

Friday, June 26, 2009

Pemerintah Siapkan Inpres Industri Kreatif

Untuk mendukung kesinambungan pengembangan industri kreatif di Tanah Air, pemerintah akan menerbitkan instruksi presiden (Inpres) mengenai industri kreatif dalam waktu dekat. Inpres ini merupakan bagian dari turunan cetak biru dan road map industri kreatif yang telah dibentuk tahun 2008 lalu.

Demikian disampaikan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam acara konferensi pers di JCC disela-sela ajang Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI), Jumat (26/6/2009).

"Industri kreatif yang sedang disiapkan Inpres, perkembangan industri kreatif mencakup 24 Departemen dan Pemda guna mendorong membuat program aksi berkesinambungan," jelas Mari.

Dikatakan Mari, penggodokan industri kreatif setidaknya sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, cikal bakal pengembangan industri kreatif merupakan bagian dari inisiatif presiden.

Sementara itu Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Bachrul Chairi mengatakan dibentuknya Inpres diharapkan bisa menjadi payung hukum dalam menjalankan cetak biru (blue print) industri kreatif termasuk dalam mempermudah koordinasi, anggaran dan lain-lain.

"Rencananya hari ini saat launching PPKI akan diumumkan oleh Pak Presiden, tapi masih ada kendala teknis," ujarnya.

Bachrul menambahkan berdasarkan road map industri kreatif hingga tahun 2025, sektor ini bisa menjadi sektor tersendiri dan melengkapi 3 pilar ekonomi lainnya yaitu pertanian, industri dan jasa.

Sumber: www.detikfinance.com 26/06/2009

Tuesday, June 23, 2009

Wall street Kembali Catat Hari Terburuk

Saham-saham di Wall Street kembali berjatuhan dan mencatat penurunan terbesar dalam sehari untuk 2 bulan terakhir. Indeks S&P 500 bahkan kembali mencatat negatif untuk sepanjang tahun ini.

Investor di Wall Street kembali melakukan aksi jual besar-besaran karena khawatir tentang nasib kesehatan perekonomian AS. Sektor-sektor yang sensitif terhadap perekonomian seperti finansial, energi dan material berjatuhan.

Analis menyatakan, investor saat ini masih ingin menjual saham-saham yang sudah mengalami kenaikan besar sehingga membuat indeks di Wall Street mengalami rally pada awal Maret lalu.

"Pemulihan ekonomi dan juga pendapatan perusahaan sepertinya tidak akan sekuat kenaikan harga saham yang terjadi awal Maret lalu," ujar Hugh Johnson, chief investment officer Johnson Illington Advisors seperti dikutip dari Reuters, Selasa (23/6/2009).

Pada perdagangan Senin (22/6/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup merosot hingga 200,72 poin (2,35%) ke level 8.339,01. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 28,19 poin (3,06%) ke level 893,04 dan Nasdaq turun 61,28 poin (3,35%) ke level 1.766,19.

Investor juga dibuat gugup setelah Bank Dunia mengumumkan outlook yang tidak terlalu baik untuk perekonomian dunia. Merosotnya harga komoditas yang dipimpin minyak membuat investor sangat gugup untuk kembali ke pasar saham menjelang pertemuan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Merosotnya harga minyak mentah membuat saham-saham energi juga ikut berjatuhan. Saham Chevron tercatat merosot hingga 3,4%, Exxon Mobil turun 3,11%.

Demikian pula turunnya harga-harga logam membuat saham-saham pertambangan ikut berjatuhan, seperti Freeport-McMoran yang merosot 11,3%, Alcoa turun hingga 8,91%.

Saham-saham teknologi juga ikut berjatuhan, seperti Apple yang turun hingga 1,5% meski produsen iPhone itu baru saja mengumumkan penjualan produk terbaru iPhone hingga 1 juta.

Tak berbeda pula nasib saham-saham sektor finansial seperti Bank of America yang turun 9,68%, JPMorgan Chase turun 6,09%.

Perdagangan berjalan moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,40 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,35 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.

Harga Minyak Merosot

Harga minyak mentah dunia merosot tajam seiring profit taking setelah lonjakan sebelumnya yang sempat menembus US$ 72 per barel.

Kontrak utama minyak light pengiriman Juli merosot 2,62 dolar menjadi US$ 66,93 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Agustus juga merosot 2,21 dolar menjadi US$ 66,98 per barel.

Sumber: www.detikfinance.com 23/06/2009

Monday, June 1, 2009

Commercial Banking Kontribusi Terbesar Laba Mandiri

Commercial Banking PT Bank Mandiri Tbk menjadi kontributor terbesar dalam perolehan laba operasional di triwulan pertama 2009 dengan menyumbang Rp 1,007 triliun atau 45,6 persen dari total laba perseroan sebelum pajak.

Angka tersebut tumbuh 62,68 persen dari perolehan laba di tahun sebelumnya pada periode yang sama yaitu sebesar Rp 619 miliar.

"Kami bersyukur bahwa di tengah kondisi perekonomian yang belum membaik, dengan positioning dan strategi yang tepat, serta dukungan dari seluruh stakeholder, Commercial Banking Bank Mandiri masih dapat meningkatkan kinerjanya dengan baik," kata Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Zulkifli Zaini dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jakarta, Minggu (31/5/2009).

Commercial Banking Bank Mandiri adalah unit bisnis yang mengelola dana dan kredit nasabah untuk segmen Commercial dengan limit kredit dari Rp 5 miliar sampai 500 Miliar dan Small Business dengan limit kredit Rp 100 juta sampai dengan Rp 5 miliar.

Menurutnya, kinerja segmen Commercial sangat didukung oleh kondisi struktur dana murah yang kuat, dengan ratio dana murah sebesar 63,21 persen. Total dana masyarakat Commercial di triwulan pertama 2009 tumbuh 17.7 persen YoY, dimana dana murahnya tumbuh sebesar 10.8 persen dari sebesar Rp 18,77 triliun di triwulan pertama tahun 2008 menjadi Rp 20,79 triliun di tahun 2009.

Ia mengatakan, untuk mencapai kinerja yang terus meningkat di tahun 2009, ada beberapa strategi yang akan dilakukan antara lain meningkatkan margin asset terutama pada kredit segmen Small Commercial dan Medium Commercial (limit dibawah Rp 100 Milyar).

Juga meningkatkan portfolio sustainability melalui pemanfaatan produk KMK fixed, memberikan pembiayaan kepada sub kontraktor perusahaan besar (korporasi), khususnya di sektor infrastruktur, pengangkutan, perkebunan, dan telekomunikasi.

"Kita juga menetapkan target strategic partner aliansi dari 10 nasabah corporate dan 17 nasabah commercial yang memberikan dampak bisnis signifikan, pengembangan product bundling dengan memanfaatkan product push dan existing product range," jelasnya.

Sampai dengan saat ini pertumbuhan volume bisnis Commercial terbesar masih di wilayah Jabodetabek. Optimalisasi jaringan distribusi terus ditingkatkan di seluruh wilayah Indonesia, sehingga beberapa daerah di luar Jakarta juga telah memberikan kontribusi pertumbuhan volume bisnis yang cukup baik.

Seperti Sumatera dengan volume kreditnya sebesar Rp 5,8 triliun dan dana sebesar Rp 5 triliun, Jawa dan Bali dengan volume kredit sebesar Rp 31,1 triliun dan dana sebesar Rp 23,9 triliun, Kalimantan dengan volume kredit sebesar Rp 2,9 triliun dan dana sebesar Rp 2,2 triliun, sementara itu untuk Indonesia Bagian Timur, volume kredit sebesar Rp 900 milisr dan dana sebesar Rp 1,8 triliun.

Sampai dengan Triwulan I tahun 2009, kredit Commercial tumbuh 21 persen (Year on Year) atau sebesar Rp 9,5 triliun, yaitu dari Rp 45,2 triliun menjadi Rp 54,7 triliun.

Dana Masyarakat meningkat 17 persen atau sebesar Rp 5 triliun, yaitu dari sebesar Rp 30,4 triliun menjadi Rp 35,4 triliun.

Fee based Income meningkat 25 persen atau sebesar Rp 25 miliar, yaitu dari sebesar Rp 102 miliar menjadi Rp 127 miliar. Gross NPL terkendali di bawah 3 persen.

Sumber: www.detikfinance.com 31/05/2009


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Architecture. Powered by Blogger